Sosial oleh: Al Ridwan™

Pemilu

Pemilu dari kata dasar pilu, yang artinya sangat sedih atau terharu. Pemilu berarti sesuatu atau seseorang yang membuat suasana menjadi sangat sedih, atau menjadi terharu karena keadaan yang dikondisikannya.

Islam Oleh: Al Ridwan™

Wali Songo

Islam masuk ke pulau Jawa dibawa oleh para pedagang Gujaraj, perkembangan islam waktu itu hanya sebatas di daerah pesisir atau pelabuhan dimana para pedagang Gujaraj tinggal, sebagian kecil pribumi di pesisir yang menikah dengan pedagang Gujaraj memeluk agama Islam.

Komputer Oleh: Al Ridwan™

Masalah Posting pada Blog

Artikel ini saya tuliskan bagi mereka yang mengalami kesulitan waktu posting. Posting yang kita lakukan, hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapan. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan :

Cerita Misteri Oleh: Al Ridwan™

Candi Wayang

Langit cerah, udara sejuk terasa. Pemandangan yang indah yang dipenuhi dengan dedaunan hijau yang rimbun, daun padi yang mulai menguning mengiringi langka rombongan pemuda untuk mendaki ke Samiaji yang terdiri dari lima orang laki-laki dan satu perempuan.

Puisi Oleh: Al Ridwan™

Cinta Terpendam

Apakah engkau merasa
kalau asmara di dalam dadaku
sedang bergelora

Puisi Oleh: Al Ridwan™

Pernikahan

Wanita kurang mampu melindungi dirinya
tetapi lebih mampu menjaga perbuatannya
Lelaki lebih mampu melindungi dirinya
tetapi kurang mampu menjaga perbuatannya

Tutor Blog Oleh: Al Ridwan™

Mengubah Icon Blog

Sebagian blogger menginginkan Icon dari blognya (Paficon) sesuai dengan gambar mereka (bukab icon bawaan dari blogger). Icon tersebut dapat diganti dengan cara sebagai berikut :

Tutor Blog Oleh: Al Ridwan™

Posting Artikel Multi Kolom

Sebagian blogger menginginkan Icon dari blognya (Paficon) sesuai dengan gambar mereka (bukan icon bawaan dari blogger). Icon tersebut dapat diganti dengan cara sebagai berikut :

    

Bukan Cinta

Hati yang luka
Karena asmara yang bertepuk sebelah
Jiwa yang merana
Karena asmara yang tak terbalas

Apakah ini Cinta ??

    Mengapa harus merana ?
    Bila yang tercinta telah berdua
    Mengapa harus terluka ?
    Bila yang tercinta bahagia

Kalau cinta tidak akan terluka
Kalau cinta tidak akan merana
Semua demi bahagia yang tercinta


ridwant, 09 September 2011 surabaya    

Tenggelam dalam Lamunan

Aku tenggelam dalam lamunan
Bayang-bayang yang selalu mengikutiku
Aku terperangkap dalam mimpi
Yang selalu menghantuiku

Mimpi akan hari esok
Yang tidak pernah menjadi kenyataan
Lamunan akan masa lalu
Yang penuh dengan kepahitan dan kegagalan

Aku coba untuk lari meninggalkan
Namun semakin jauh aku berlari
Semakin dalam bayang-bayang itu menghadang
Semakin kerap mimpi-mimpi itu datang

Namun tetap kucoba dan kucoba
Kapankah kenyataan indah kan datang?
Kapankah kepahitan dan kegagalan
Berubah menjadi kebahagiaan

ridwant, 12 Agustus 2011 surabaya    

Terpanah

Kala sepasang mata itu memandang
Aku terseret dalam kecantikannya
Rasa itu sangat terasa
Hingga ke dalam hatiku yang paling dalam

     Aku terpanah bukan hanya melihat sepasang mata
     Aku terpaku bukan karena bibir mungil dan senyum yang manis
     Aku terbuai bukan karena hidungnya yang mancung
     Akan tetapi oleh paras wajahnya yang indah menyatu

Apakah ini yang dinamakan cinta?
Ataukah hanya getaran asmara belaka?
Ataukah aku hanya suka?

Aku tidak tahu arti cinta, asmara dan suka
Tetapi yang pasti aku terpanah.

ridwant, 09 September 2010 surabaya    

Seandainya Bisa Memilih


Seorang gelandangan tua renta yang miskin
Yang hanya memiliki gerobak
sebagai tempat berteduh dari sinar matahari dan guyuran hujan
Yang hanya memiliki sepasang pakaian
Yang sudah compang-camping melekat di badannya
Tapi cukup untuk menutupi seluruh auratnya

Ia selesai melaksanakan sholat
Dengan berteduh di bawah pohon rindang
Menghadap ke sungai dengan pemandangan yang indah
Yang kebetulan itu arah kiblat
Duduk beralaskan plastik bersih
Yang ia pungut dijalanan
Sejenak dia merenungkan nasibnya

            Hidup adalah sebuah pilihan
            Tapi mengapa aku tidak bisa memilih
            Atas kekayaanku dan kemiskinanku
            Padahal aku sudah mencurahkan
            Segenap pikiranku untuk menuntut ilmu
            Padahal aku sudah mengeluarkan
            Seluruh tenagaku untuk bekerja dan berusaha
            Dan aku sudah mengkusyukkan, mengikhlaskan
            Untuk selalu berdo’a dan mencari ridhoNya
            Namun aku masih tidak bisa memilih
            Atas kekayaanku dan kemiskinanku

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Raja
yang tidak memperhatikan
nasib seluruh rakyatnya
baik yang di kota sampai ke pelosok desa

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Penegak Hukum
yang dirinya sendiri tidak taat hukum
dan selalu bermain-main dengan hukum

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Birokrat
yang selalu melakukan pungutan liar
yang semakin memberatkan beban rakyat

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Wakil Rakyat
yang selalu mengumbar janji manis untuk rakyat
tanpa bisa menepati janjinya

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Majikan
yang tidak membayarkan upah buruhnya
sebelum kering keringatnya

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Mandor
yang sering mengambil sebagian upah
yang telah menjadi hak kulinya

Seandainya aku bisa memilih
Aku tidak ingin menjadi Sopir Umum
yang dengan ugal-ugalan mengendarai mobilnya
dengan mempertaruhkan banyak nyawa para penumpangnya
demi mengejar setoran semata

            Seandainya aku bisa memilih
            Aku ingin menjadi orang yang cukup
            Cukup dalam harta kekayaanku
            sehingga aku dapat beramal sholeh
            aku dapat menyantuni anak yatim, dan fakir miskin
            tanpa merasa kehilangan sebagian atau seluruhnya hartaku
            Cukup dalam waktuku
            sehingga aku dapat selalu
            menjalankan perintah Allah
            tanpa dihadang oleh pemenuhan kebutuhan esok
            tanpa harus dikejar-kejar waktu dalam meyelesaikan pekerjaanku

Tapi mengapa aku harus memilih ???
Bukankah aku seorang gelandangan tua renta miskin
yang hanya memiliki sepasang baju compang-camping
yang melekat di tubuhku
Aku hanya seorang gelandang tua renta miskin
yang hanya memiliki sebuah gerobak tua
tempatku berteduh dari sengatan matahari dan guyuran hujan
Aku hanya seorang gelandangan tua renta miskin
yang mencari sesuap nasi untuk hari ini
dengan mengais-ngais, mencari barang bekas di sampah

Aku memang tidak punya
Pakaian yang layak untuk sholat
Namun aku belum pernah meninggalkan sholat
Dan berusaha selalu untuk tidak meninggalkan sholat
Aku memang tidak punya
Tempat yang layak untuk sholat
Namun aku selalu melaksanan sholat
Jika waktunya tiba, dimanapun tempatnya aku berada
Aku memang tidak punya harta untuk bersedekah
Namun akupun berusaha untuk tidak meminta

Aku memang tidak pernah punya pilihan
Atas kekayaan dan kemiskinanku
Namun aku selalu berusaha
Untuk memperoleh pilihan itu.




ridwant, 09 September 2009 surabaya    


Ibu


Langkahmu yang semakin perlahan
Menyusuri jalan hidup untuk mencari penghidupan
Bagi anak-anakmu
Tubuhmu yang semakin gontai
Membawa keranjang berat di atas kepala
Demi sekolah anak-anakmu

Jalan yang panjang mendaki penuh rintangan
telah engkau lalui
Namun engkau terus berjalan
Namun engkau terus membawah keranjang di atas kepala
Walupun panas menyengat
Dan hujan membasahi seluruh tubuh

Telah banyak budi yang kau berikan
Telah banyak jasa yang kau limpahkan
Telah banyak pengetahuan yang engkau didikkan
Telah banyak kasih sayang yang engkau curahkan

Kasih sayangmu tak pernah putus
Walau apapun balasan anak terhadapmu
Kasih sayangmu tak pernah berubah
Walaupun wajah dunia telah berubah

Tubuh yang kini mulai rapuh
Takkan bisa lagi memikul beban berat
Namun engkau tetap berjuang
Memohokan do’a demi kebahagiaan anak-anakmu

Di usia tuamu, semoga anak-anakmu dapat membahagiakanmu
Semoga Allah membalas semua jasa-jasamu




ridwan, 01 Januari 2008 surabaya

previous